Category Archives: Uthia Khaerani

Bulan Muharram

by Uthia Khaerani on Monday, 06 December 2010 at 22:20

Allah Ta’ala berfirman:

Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, Maka janganlah kamu Menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.(Qs.at-Taubah[9]:36)

SEJARAH [1]

Sesungguhnya hari Asyura (10 Muharram) meski merupkan hari bersejarah dan diagungkan, namun orang tidak boleh berbuat bid’ah di dalamnya. Adapun yang dituntunkan syariat kepada kita pada hari itu hanyalah berpuasa, dengan dijaga agar jangan sampai tasyabbuh dengan orang Yahudi.

“Orang-orang Quraisy biasa berpuasa pada hari asyura di masa jahiliyyah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun melakukannya pada masa jahiliyyah. Tatkala beliau sampai di Madinah beliau berpuasa pada hari itu dan memerintahkan umatnya untuk berpuasa.”[2]

“Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, kemudian beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura. Beliau bertanya :”Apa ini?” Mereka menjawab :”Sebuah hari yang baik, ini adalah hari dimana Allah menyelamatkan bani Israil dari musuh mereka, maka Musa berpuasa pada hari itu sebagai wujud syukur. Maka beliau Rasulullah menjawab :”Aku lebih berhak terhadap Musa daripada kalian (Yahudi), maka kami akan berpuasa pada hari itu sebagai bentuk pengagungan kami terhadap hari itu.”[3]

Dua hadits ini menunjukkan bahwa suku Quraisy berpuasa pada hari Asyura di masa jahiliyah, dan sebelum hijrahpun Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melakukannya. Kemudian sewaktu tiba di Madinah, beliau temukan orang-orang Yahudi berpuasa pada hari itu, maka Nabi-pun berpuasa dan mendorong umatnya untuk berpuasa.

Diriwayatkan pada hadits lain. “Artinya : Ia adalah hari mendaratnya kapal Nuh di atas gunung “Judi” lalu Nuh berpuasa pada hari itu sebagai wujud rasa syukur”[4]

“Artinya : Abu Musa berkata : “Asyura adalah hari yang diagungkan oleh orang Yahudi dan mereka menjadikannya sebagai hari raya, maka Rasulllah Shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Puasalah kalian pada hari itu”[5]

“Artinya :Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang puasa di hari Asyura, maka beliau menjawab : “Puasa itu bisa Continue reading

Advertisements

PEMBAGIAN SYIRIK

Oleh: Uthia Khaerani
Berkata Ibnu Qayyim rahimahullah, “Adapun kesyirikan, ia ada dua macam;akbar dan ashghar. Syirik akbar tidaklah diampuni oeh Allah kecualidengan bertaubat darinya. Syirik akbar itu adalah membuat tandingan(bagi Allah) dari selain Allah, ia mencintainya sebagaimana iamencintai Allah”.

Syirik Akbar:
Syirik akbar itu adalah membuat tandingan (bagi Allah) dari selain Allah, ia mencintainya sebagaimana ia mencintai Allah”.

Syirik Akbar (besar) ada dua macam:
a.Zhahirun Jaliyyun (Jelas dan terang)
Penyembahan, pengagungan, dan kecintaan kepada selain Allah , berupan:
Nama Thaghut Dasar

1. Jin Qs.Jin[72]:6
2. Berhaala Qs. al-A’raf[7]:191, 194-195
3. Manusia Qs. al-Imran[3]:64, at-Taubah[9]:31
4. Hawa nafsu Qs. al-Furqan[25]:43, al-Jatsiyah[45]:23
5. Aturan selain Allah Qs. an-Nisa'[4]:60-61, al-A’raf[7]:54
6. Batu, hewan, matahari, binatang, dll Qs.al-Baqarah[2]:30, al-A’raf[7]:179

b.Bathinun Khafiyyun (Tersembunyi dan samar)
Sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa Sallam bersabda:
أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِمَاهُوَ أَخْوَفُ عَلَيْكُمْ عِنْدِى مِنَالْمَسِيْحِ الدَّجَالِ؟ قَالُوْا: بَلَى يَارَسُوْلُاللهِ. قَالَ:الشِّرْكُ الْخَفِيُّ , يَقُوْلُ الرَّجُلُ فَيُصَلِّي فَيُزَيِّنُصَلاَتُهُ لِمَايَرَى مِنْ نَظَرِ الرَّجُلِ إِلَيْهِ

“Maukah kamu aku beritahukan apa yang paling aku takutkan (menimpa)kamu lebih dari (takutku atasmu) terhadap Al-Masih ad-Dajjal? Mereka(Para Shahabat) menjawab: Mau, wahai Rasulullah. Beliau bersabda: (iaitu adalah) syirik khafiy (syirik yang tersembunyi), bahwa seseorangberdiri, lalu shalat, kemudian ia membaguskan shalatnya, karena iamelihat ada orang yang sedang memperhatikannya”. (HR. Ahmad dalamal-Musnad, dari Abi Sa’id al-Khudriy ra)

Yang Termasuk syirik Khafiyyun antara lain:
a. Berdo’a dan Memohon Pertolongan kepada selain Allah, misalnya kepada orang yang telah mati.

Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:
Ingatlah, Hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik).dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kamitidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepadaAllah dengan sedekat- dekatnya”. Sesungguhnya Allah akan memutuskan diantara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. SesungguhnyaAllah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.(Qs.az-Zumar[39]:3).

Ath-Thabrani, dengan menyebutkan sanad-nya, meriwayatkan bahwa: “Pernahterjadi pada zaman Nabi Shallallahu ‘alahi wa Sallam ada seorangmunafik yang selalu mengganggu orang-orang mukmin, maka berkatalahsalah seorang di antara mereka: “Marilah kita bersama-sama istighatsahkepada Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa Sallam supaya dihindarkan daritindakan orang munafik ini”. Ketika itu, bersabda Nabi Shallallahu’alahi wa Sallam:
إِنَّهُ لاَ يُسْتَغَاثُ بِى وَإِِنَّمَا يُسْتَغَاثُ بِاللَّهِ
“Sesungguhnya tidak boleh istighatsah kepadaku, tetapi istighatsah itu seharusnya hanya kepada Allah saja”.

Menurut Ibnu Qayyim rahimahullah, penyebab syirik tidak jelas yaitu:
1. Manusia tidak menganggap do’a, meminta pertolongan, dan memintabantuan kepada orang yang telah dikubur sebagai ibadah. Mereka mengirabahwa ibadah hanya sebatas pada ruku’ sujud, shalat, puasa, danlain-lain. Padahal ruh ibadah adalah do’a. Rasulullah Shallallahu’alahi wa Sallam bersabda:
الدُّعَاءُ هُوَ العِبَادَةُ “Do’a adalah Ibadah”. (HR. at-Tirmidzi)

2. Mereka berkata: “Kami tidak menyakini bahwa mayit tempat kamimemohon dan meminta bantuan sebagai sesembahan atau tuhan, justru kamimenyakini bahwa mereka adalah makhluk seperti kita, akan tetapi merekaadalah perantara antara kami dengan Allah dan pemberi syafaatdisisi-Nya.

Mereka datang membawa baju gamisnya (yang berlumuran) dengan darahpalsu. Ya’qub berkata: “Sebenarnya dirimu sendirilah yang memandangbaik perbuatan (yang buruk) itu; Maka kesabaran yang baik Itulah(kesabaranku. dan Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya terhadapapa yang kamu ceritakan.” (Qs. Yusuf[12]:18).

b. Menjadikan selain Allah sebagai Pemilik Hak pembuat Syari’at
Pemberian wewenang membuat undang-undang secara absolut oleh sebagianmanusia kepada individu atau kelompok, baik untuk kepentingan merekaatau orang lain. Dengan hak itu mereka:

1. Menghalalkan dan mengharamkan sesuai dengan kehendak mereka.
Sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa Sallam bersabda:
” Betul, … Sesungguhnya mereka mengharamkan yang halal dan menghalalkanyang haram, lalu mereka mengikutinya, itulah penyembahan kepadamereka”. (HR. Tirmidzi, Ahmad, Ibnu Jarir)

2. Mereka menetapkan berbagai hukum dan aturan yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan Hadits. Allah Ta’ala berfirman:
Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini,niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. mereka tidak lainhanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalahberdusta (terhadap Allah). (Qs.al-An’am[6]:116).

3. Menetapkan metodologi dan pola pikir, yang tidak diizinkan Allah danbertolak belakang dengan syari’at-Nya. Allah Ta’ala berfirman:
Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yangmensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah? sekiranyatak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka Telahdibinasakan. dan Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu akanmemperoleh azab yang amat pedih. (Qs. Asy-Syura[42]:21).

Syirik Khafiy dapat masuk pada syirik Akbar , seperti Syirikorang-orang munafik, karena mereka menyembunyikan akidah mereka yangbatil; dan menampakkan ke-Islaman mereka, atas dasar riya’ dan takutatas kepentingan diri mereka. Sebagimana Allah Ta’ala berfirman dalamQs. An-Nisa[4]:142-143.


Kelebihan Manusia dan Cobaannya

Allah Swt mencipatakan hamba-Nya dengan berbagai kelebihan menurut al-Qur’an:
1.Diciptakan dalam bentuk yang terbaik (Qs. at-Tin[95]:4; al-Mursalat[77]:23
2.Manusia di ciptakan Allah Swt tidaklah sia-sia (Qs. al-Qiyamah[75]:36)
3. Fitrah beragama Tauhid (Qs. ar-rum[30]:30)
4. Gerak-geriknya di catat Malaikat (Qs. Qaf[50]:16,22)
5. Sgala sesuatu tidak dibebani sesuai dengan kmampuannya (Qs.al-Baqarah[2]:233,286 ;al-Mu’minuun[23]:62
6. Di beri petunjuk pada jalan yang baik dan buruk (Qs.al-Balad[ 90]:10 ;asy-Syam [91]:8)
7. Diberi kelapangan sesudah kesempitan&sesudah ksulitan ada klapangan (Qs. al-Thalaq[65]:7 ; al-Insyirah[94]:5-6)
8. Di beri Nikmat (Qs. Ibrahim[14]:32-34 ; an-Nahl[16]:10,14)
9. Di Muliakan dan di Istimewakan (Qs.al-Isra[17]:70)
10. Disediakan sumber khidupan (Qs. al-a’raf[7]:10)
11. Dilindungi dari tipu daya syaitan (Qs. al-Isra[17]:65)
12. Dijaga dan diawasi Allah Swt (Qs. an-Nisa[4]:1 ; Yunus[10]:61 ; ar-Ra’d[13]:1)
13. Dibaguskan rupanya dan diberi rezeki oleh Allah Swt (Qs. al-Mu’min[40]: 64)
14. Diciptakan Allah Swt dengan melalui perhitungan yang matang (Qs. Thaha[20]:122)
15. Mendapat anugrah berupa wawasan moral (Qs. asy-Syam[91]:7-8)
16. Mendapatkan kemampuan yang paling tinggi untuk mendapatkan ilmu pengetahuan (Qs. al-Baqarah[2]:31-33)

COBAAN YANG DIBERIKAN KEPADA MANUSIA

Dalam Kitab “Risalah Qusyairiyah” karya Imam al-Qusyairi al-Kattani pernah berkata: “Dunia diciptakan agar manusia menerima cobaan dan akhirat diciptakan agar manusia bertaqwa .”
Cobaan tersebut diantaranya:
1. Dicoba dengan kelaparan,ketakutan dan jiwanya (Qs. al-baqarah[2]:155-157)
2. Dicoba dengan kemiskinan dan kekayaan (Qs. al-Fajr[89]:15-16)
3. Dicoba dengan harta dan anaknya (Qs.al-Anfal[8]:28)
4. Dicoba dengan harta dan dirinya (Qs.al-Imran[3]:186)
5. Dicoba dengan bencana yang menimpa (Qs. al-hadid[57]: 22-24)
6. Dicoba dengan malapetaka,kesengsaraan,digoncangkan(dengan berbagai cobaan)(Qs.al-Baqarah[2]:214)
7. Cobaan Bencana (Qs. an-Nisa[4]:78 ; Yunus[10]:49)
8. Musibah (Qs. asy-Syura[42]:30-36)
9. Hidup penuh perjuangan (Qs. al-Mu’min[40]:4)


MACAM-MACAM THAGHUT

Oleh: @Uthia Khaerani

Thaghut sangat banyak macamnya yang paling populeh sebagai biang dan kepalanya adalah:

1. SYAITHAN.
Bukankah Aku Telah memerintahkan kepadamu Hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah syaitan? Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu”,(Qs. Yasin[36]:60).

PERBEDAAN ANTARA JIN, SETAN DAN IBLIS
Rasulullah Shallallhu alaihi wa Sallam diutus untuk semua. Allah firman-Nya: Katakanlah: “Hai manusia Sesungguhnya Aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, yang menghidupkan dan mematikan, Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah Dia, supaya kamu mendapat petunjuk”.(Qs. Al-A’raf[7]:158).

Juga firman-Nya:
Dan (Ingatlah) ketika kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al Quran, Maka tatkala mereka menghadiri pembacaan (nya) lalu mereka berkata: “Diamlah kamu (untuk mendengarkannya)”. ketika pembacaan Telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan. Mereka berkata: “Hai kaum kami, Sesungguhnya kami Telah mendengarkan Kitab (Al Quran) yang Telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus. Hai kaum kami, terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Allah dan berimanlah kepada-Nya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kamu dan melepaskan kamu dari azab yang pedih. Dan orang yang tidak menerima (seruan) orang yang menyeru kepada Allah Maka dia tidak akan melepaskan diri dari azab Allah di muka bumi dan tidak ada baginya pelindung selain Allah. mereka itu dalam kesesatan yang nyata”. (Qs.al-Ahqaaf[46]:29-32)

Nabi Saw bersabda:
“Adalah para Nabi itu diutus kepada kaumnya sedang aku diutus kepada seluruh manusia.” (HR. Bukhari Muslim, dari Jabir bin Abdullah RA)

Masalah JIN:
Asal penciptaan jin adalah dari api
Allah Ta’ala berfirman: Dan kami Telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas. (Qs.al-Hijr[15]:27).

Juga firman-Nya, “Dan dia menciptakan jin dari nyala api”. (Qs. Ar-Rahman[55]:15).

Nabi Saw bersabda: “Para malaikat diciptakan dari cahaya, jin diciptakan dari nyala api, dan Adam diciptkan dari apa yang disifatkan kepada kalian.” (HR. Muslim no.2996 dari ‘Aisyah RA)

Masaalah IBLIS:
Allah Ta’ala berfirman: Dan (Ingatlah) ketika kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam, Maka sujudlah mereka kecuali iblis. dia adalah dari golongan jin, Maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. patutkah kamu mengambil dia dan turanan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? amat buruklah Iblis itu sebagai pengganti (dari Allah) bagi orang-orang yang zalim. (Qs.al-Kahfi[18]:50).

Ibnu Katsir Ra berkata: “Iblis mengkhianati asal penciptaannya, karena dia sesungguhnya diciptakan dari nyala api, sedangkan asal penciptaan malaikat adalah dari cahaya. Maka Allah Ta’ala mengingatkat di sini bahwa Iblis berasal dari kalangan jin, dalam arti dia diciptkan dari api. Al-Hasan Al-Bashri berkata: ‘Iblis tidak termasuk malaikat sedikitpun. Iblis merupakan asal mula jin. Sebagaimana Adam sebagai asal mula manusia’.”

Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di Ra mengatakan: “Iblis adalah abul jin (baapak para jin).”

Sedangkan setan, mereka adalah kalangan jin yang durhaka. Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Ra pernah ditanya tentang perbedaan jin dan setan, beliau menjawab: “Jin itu meliputi setan, namun ada juga yang shalih. Setan diciptakan untuk memalingkan manusia dan dan menyesatkannya. Adapun yang shalih, mereka berpegang teguh dengan agamanya, memiliki masjid-masjid dan melakukan shalat sebatas yang mereka ketahui ilmunya. Hanya saja meyoritas mereka itu bodoh.”

Siapakah Iblis.?
Terjadi perbedaan pendapat dalam hal asal-usul iblis:
Pertama; bahwa iblis berasal dari jenis jin.
(Al-Hasanal-al-Bashri Ra. beliau menyatakan: “Iblis tidak pernah menjadi golongan malaikat sekejap matapun sama sekali. Dan dia benar-benar asal-usul jin, sebagaimana Adam asal-usul manusia.”

Pendapat ini pula yang tampaknya dikuatkan oleh Ibnu Katsir, Al-jashshash dalam kitabnya Ahkamul Qur’an (3/215), dan Asy-Syinqithi dalam kitabnya Adhwa’ul Bayan (4/120). Penjelasan tentang dalil pendapat ini beliau sebutkandalam kitab tersebut. Secara ringkas, dapat disebutkan sebagai berikut:

1. Kema’shuman malaikat dari perbuataan kufur yang dilakukan iblis. Sebagaimana Allah Swt berfirman:Qs.at-Tahrim[66]:6
2. Dzahir surat al-Kahfi[18]:50.

Allah Ta’ala menegaskan dalam ayat ini bahwa iblis dari jin, dan jin bukanlah malaikat. Ulama yang perpendapat ini mengatakan: “ini adalah nash Al-Qur’an yang tegas dalam masalah yang diperselisihkan ini. ” Beliau juga mengatakan: “Dan hujjah yang paling kuat dalam berpendapat bahwa iblis bukan dari malaikat.”

Kedua; bahwa iblis dari malaikat.
Menurut al-Qurthubi, adalah pendapat jumhur ulama’ termasuk Ibnu Abbas Ra, berdasarkan Qs.al-Baqarah[2]:34. sebenarnya ayat tersebut tidak menunjukkan bahwa iblis dari malaikat. Karena susunan kalimat tersebut adalah susunan istisna’ munqathi (yaitu yang dikecualikan tidaklah termasuk jenis yang disebutkan)

Adapun cerita-cerita asal-usul iblis, itu adalah cerita Israiliyat. Ibnu Katsir menyatakan: “Dan dalam masalah ini (asal-usul iblis), banyak yang diriwayatkan dari ulama salaf. Namun mayoritasnya adalah Israiliyat (cerita-cerita dari Bani Israil) yang (sesunggunya) dinukilkan untuk dikaji- wallahu a’lam-, Allah lebih tahu tentang keadaan mayoritas cerita itu. Dan di antaranya ada yang dipastikan dusta, karena menyelisihi kebenaran yang ada di tangan kita. Dan apa yang ada di dalam al-Qur’an sudah memadai dari yang selainnya dari berita-berita itu.”

Asy-Syinqithi menyatakan: “Apa yang disebutkan para ahli tafsir dari sekelompok ulama salaf, seperti Ibnu Abbas dan selainnya, bahwa dahulunya iblis termasuk pembesar malaikat, penjaga surga, mengurusi urusan dunia, dan namanya adalah ‘Azazil, ini semua cerita Israiliyat yang tidak bisa dijadikan landasan.”

Pendapat yang kuat adalah pendapat yang pertama, insya Allah, karena kuatnya dalil mereka dari ayat-ayat yang jelas.

Masalah SYAITHAN:
Siapak syaithan ?
Syaithan ( شَيْطَانٌ ) dalam bahasa Arab diambil dari kata ( شَطَنَ ) yang berarti jauh. Ada pula yang mengatakan bahwa itu dari kata ( شَاطَ ) yang berarti terbakar atau batal. Pendapat yang pertama lebih kuat menurut Ibnu Jarir dan Ibnu Katsir, sehingga kata syaithan artinya yang jauh dari kebenaran atau dari rahmat Allah Ta’ala.

Ibnu Jarir menyatakan, syaithan dalam bahasa Arab adalah setiap yang durhaka dari jin, manusia atau hewan, atau dari segala sesuatu.

Allah Ta’ala berfirman:
“Dan Demikianlah kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, Maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan”. (Qs.al-An’am[6]:112).

Dalam ayat ini Allah Ta’ala menjadikan syaithan dari jenis manusia, seperti halnya syaithan dari jenis jin. Dan hanyalah setiap yang durhaka disebut syaithan, karena akhlak dan perbuatannya menyelisihi akhlak dan perbuatan makhluk yang sejenisnya, dan karena jauhnya dari kebaikan. (Tafsir Ibnu Jarir)

Ibnu Katsir menyatakan bahwa syaithan adalah semua yang keluar dari tabiat jenisnya dengan kejelekan. (Tafsir Ibnu Katsir, 2/127). Lihat pula al-Qamus al-Muhith (hal.1071) dalil yang mendukung (Qs.al-An’am[6]:112)

Dari Abu Dzar RA, ia berkata: Aku datang kepada Nabi Saw dan beliau berada di masjid. Akupun duduk. Dan beliau menyatakan: “Wahai Abu Dzar apakah kamu sudah shalat?” Aku jawab: “Belum”. Beliau mengatakan: “Bangkit dan shalatlah.” Akupun bangkit dan shalat, lalu aku duduk. Beliau berkata:”Wahai Abu Dzar, berlindunglah kepada Allah dari kejahatan syaithan manusia dan jin.” Abu Dzar berkata: “Wahai Rasulullah, apakah di kalangan manusia ada syaithan?” Beliau menjawab: “Ya”. (HR. Ahmad)

Ibnu Katsir menyatakan setelah menyebutkan beberapa sanad hadits ini: “Inilah jalan-jalan hadits ini. Dan semua jalan-jalan hadits tersebut menunjukkan kuatnya hadits itu dan keshahihannya.” (Tafsir Ibnu Katsir, 2/172)

Yang mendudung pendapat ini adalah hadits Nabi Saw:
الكَلْبُ اْلأَسْوَدُ شَيْطَانٌ
“Anjing hitam adalah syaithan.” (HR. Muslim)
Ibnu Katsir menyatakan: “Maknanya –wallahu a’lam- yaitu syaithan dari jenis anjing.” (Tafsir Ibnu Katsir, 2/173)

Ini pendapat Qatadah, Mujahid, dan yang dikuatkan oleh Ibnu Katsir, Ibnu Jarir, Asy-Syaukani dan Asy-Syanqithi.

TEKATNYA SYAITHAN DALAM MENYESATKAN MANUSIA.
Allah Ta’ala berfirman:
Iblis menjawab: “Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan”. Allah berfirman: “Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh.” Iblis menjawab: “Karena Engkau Telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat). (Qs.al-A’raf[7]:14-17)

Syaithan turunan iblis (Qs.al-Kahfi[18]:50) turunan-turunn Iblis yang dimaksud dalam ayat ini adalah syaithan-syaithan. (Tafsir Al-Karim Ar-Rahman, hal.453)

2. HAKIM YANG JAHAT.
Allah Ta’ala berfirman:
Dan Demikianlah pemimpin-pemimpin mereka Telah menjadikan kebanyakan dari orang-orang musyrik itu memandang baik membunuh anak-anak mereka untuk membinasakan mereka dan untuk mengaburkan bagi mereka agama-Nya. dan kalau Allah menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, Maka tinggallah mereka dan apa yang mereka ada-adakan. (Qs.al-An’am[6]:137)

Juga firman-Nya:
Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah? sekiranya tak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka Telah dibinasakan. dan Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu akan memperoleh azab yang amat pedih. (Qs.asy-Syura[42]:21).

3. HUKUM SELAIN HUKUM ALLAH.
Allah Ta’ala berfirman:
“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya Telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu ? mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka Telah diperintah mengingkari thaghut itu. dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya”. (Qs. An-Nisa[4]:60-62).

Dari ‘Abdullah bin ‘Amir Radhiyallah ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يَكُوْنَ هَوَاهُ تَبَعًا لِمَا جِئْتُ بِهِ
” Tidaklah beriman (sempuena) seseorang di antara kamu, sebelum keinginan dirinya menuruti apa yang telah aku bawa (dari Allah). (Kata an-Nawawi: “Hadits shahih kami riwayatkan dari kitab al-Hujjah dengan isnad shahih)

Asy-Sya’bi menuturkan:
“Pernah terjadi pertengkaran antara orang munafik dengan seorang Yahudi. Berkatalah orang Yahudi itu: “Mari kita berhakim kepada Muhammad”, karena ia mengerti bahwa beliau tidak mengambil risywah (sogok). Sedangkan orang munafik itu berkata: “Mari berhakim kepada orang-orang Yahudi”, karena ia tahu bahwa mereka mau menerima risywah. Maka bersepakatlah keduanya untuk datang berhakim kepada seorang dukun di Juhainah. Lalu turun ayat: “Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku…”dst.”

4. DUKUN DAN TUKANG SIHIR.
Allah Ta’ala berfirman:
“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang diberi bahagian dari Al kitab? mereka percaya kepada jibt dan thaghut, dan mengatakan kepada orang-orang kafir (musyrik Mekah), bahwa mereka itu lebih benar jalannya dari orang-orang yang beriman”. (Qs. An-Nisa[4]:51).

Juga Firman-Nya:
(Dia adalah Tuhan) yang mengetahui yang ghaib, Maka dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu. Kecuali kepada Rasul yang diridhai-Nya, Maka Sesungguhnya dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya. (Qs. Al-Jin[72]:26-27)

Dan firman-Nya pula:
Katakanlah: “Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah”, dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan. (Qs.an-Naml[27]:65).

5. BERHALA.
Allah Ta’ala berfirman:
” Dan (Ingatlah) di waktu Ibrahim Berkata kepada bapaknya, Aazar, “Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya Aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata.” Dan Demikianlah kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi dan (Kami memperlihatkannya) agar dia termasuk orang yang yakin. Ketika malam Telah gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: “Inilah Tuhanku”, tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: “Saya tidak suka kepada yang tenggelam.”(Qs.al-An’am[6]:74-76)

Juga firman-Nya:
“Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: “mereka itu adalah pemberi syafa’at kepada kami di sisi Allah”. Katakanlah: “Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya baik di langit dan tidak (pula) dibumi?” Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dan apa yang mereka mempersekutukan (itu)”. (Qs. Yunus[10]:18).