Tag Archives: Bugis

Tau ngga Sih…!! Mario Teguh itu Orang Bugis

Mario Teguh (lahir di Makassar, 5 Maret 1956; umur 56 tahun) adalah seorang motivator dan konsultan asal Indonesia. Nama aslinya adalah Sis Maryono Teguh, namun saat tampil di depan publik, ia menggunakan nama Mario Teguh. Ia meraih gelar Sarjana Pendidikan dari IKIP Malang. Mario Teguh sempat bekerja di Citibank, kemudian mendirikan Bussiness Effectiveness Consultant, Exnal Corp. menjabat sebagai CEO (Chief Executive Officer) dan Senior Consultan. Beliau juga membentuk komunitas Mario Teguh Super Club (MTSC).

via Mario Teguh – Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Mario Teguh - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

.

via Tau ngga Sih…!! Mario Teguh itu Orang Bugis.

Advertisements

Sejarah RMS

Rusdi Masse, dari sopir jadi juragan kapal

Perantau asal Sidrap, Sulawesi Selatan H. Rusdi Masse yang merintis karirnya sebagai buruh dan sopir truk ternyata berhasil menjadi pengusaha kapal.

Hal ini disampaikan Rusdi Masse saat ditunjuk sebagai tokoh Succes Story dalam Pertemuan Saudagar Bugis Makassar (PSBM) XIII yang digelar di Menara Bosowa Makassar, Minggu (26/8).

“Hanya bermodalkan uang Rp75.000 saya pergi kerja di Jakarta. Naik kapal dengan baju 3 lembar. Orang yang pertama melihat saya di Jakarta itu pak Sadikin Aksa. Waktu itu saya bekerja sebagai tukang susun mobil,” ucap dia.

Ketika itu Kalla Lines percayakan perusahaan Bosowa untuk mengangkut kendaraan, dia mengaku hanya gaji yang diterima hanya Rp100 ribu dengan intensif Rp1.000 per unit kendaraan. “Pengiriman pertama saya ingat keuntungan 92 unit mobil mencapai Rp45 juta pada tahun 1997. Sampai hari ini kita masih tetap kerja di unit bosowa,” ucap dia

Dia menceritakan Indonesia ini adalah negara kepulauan. Pemakai kendaraan terbanyak di seluruh dunia terutama sepeda motor. “Kondisi ini yang akhirnya mendorong saya mengambil keputusan untuk membeli kapal. Utamanya kapal yang khusus mengangkut sepeda motor,” urai dia.

Dia mengaku sempat meminta bantuan pinjaman ke Sadikin Aksa untuk pengadaan kapal. “Saya di referensikan ambil modal di Bank Kesawan. Akhirnya saya beli kapal dan masukkan ke Makassar. Setelah PT. IKI (industri kapal) Makassar mengerjakan pesanan kapal yang saya inginkan,” ucap dia

Akhirnya pesanan kapal miliknya selesai dan di berangkatkan ke Jakarta. “Saya undang dealer motor untuk persentasi konsep pengiriman kapal ke mereka. Dua hari setelah persentasi kapal datang dan saya yakin mereka akan memesan langsung,” kata dia.

Bahkan, lanjutnya beberapa dealer motor di Jakarta berebut untuk menggunakan kapal angkutan kendaraan itu. “Jadi saya minta tambahan ke Bank Kesawan untuk beli kapal lagi. Akhirnya saya sudah memiliki 20 unit kapal sekarang,” sebut dia.

Keyakinan yang melekat dalam diri Rusdi Masse pada saat itu adalah keberanian dan mampu memegang kepercayaan. “Selain keberanian, hal yang paling saya jaga saat itu adalah kepercayaan,” ujarnya.

Berkat dorongan pak Erwin Aksa dan Sadikin, hingga hari ini saya tetap bergelut di bisnis pelayaran, dengan memegang komitmen agar pelayanan yang terbaik.

“Saya banyak belajar dari pak Sadikin Aksa. Dia tetap bos saya sampai sekarang. Karena saya di Sidrap, Pak Sadikin aktif terus mengontrol usaha saya di Jakarta. Sampai soal pajak dan audit sadikin saya banyak belajar dari dia,” ungkapnya.

Setelah menjadi pengusaha kapal angkutan melalui perusahaan PT. Bayumas Jasa Mandiri (BJM) Jakarta, dia mencoba untuk terjun ke politik dengan mencalonkan diri sebagai Bupati Sidrap.

“Yang paling tidak bisa dilupakan, waktu mau maju di pilkada, saya harus minta ijin dengan pak Sadikin dan Erwin Aksa. Takutnya mereka tidak setuju dan akan berpengaruh dengan usaha saya,” ungkap dia.

Ternyata dukungan kedua tokoh ini telah mendorong karir dirinya menjadi orang nomor satu di Kabupaten Sidrap, Sulsel. “Saya tidak sangka, seorang bruruh dan supir truck seperti saya bisa jadi bupati dalam kurun waktu 10 tahun. Patut saya syukuri,” ujar Rusdi di hadapan ratusan peserta PSBM XIII di Menara Bosowa Makassar.

via SAUDAGAR BUGIS: Rusdi Masse, dari sopir jadi juragan kapal – Bisnis.com


Suku Kaum Bugis

 

Suku kaum Bugis merupakan salah satu etnik yang terdapat di dalam kelompok ras berbilang bangsa di negeri Sabah. Kebanyakan suku kaum ini telah menetap di pantai Timur Sabah iaitu di daerah Tawau, Semporna, Kunak dan Lahad Datu.

Dari aspek sosial, suku kaum ini lebih terkenal dengan kerabat pangkat diraja (keturunan dara), mementingkan soal status individu dan persaudaraan sesama keluarga. Dari segi perkahwinan,suku kaum ini lebih suka menjalinkan perkahwinan dengan keluarga terdekat dan perceraian pula merupakan hubungan sosial yang amat tidak disukai oleh suku kaum ini kerana ia meruntuhkan hubungan kekeluargaan dan bertentangan dengan nilai-nilai agama.

Pakaian tradisional suku kaum Bugis.

Pada dasarnya, suku kaum ini kebanyakannya beragama Islam Dari segi aspek budaya, suku kaum Bugis menggunakan dialek sendiri dikenali sebagai ‘Bahasa Ugi’ dan mempunyai tulisan huruf Bugis yang dipanggil ‘aksara’ Bugis. Aksara ini telah wujud sejak abad ke-12 lagi sewaktu melebarnya pengaruh Hindu di Kepulauan Indonesia.

Aksara Bugis.

Sejarah kedatangan suku kaum Bugis di Sabah (Tawau khususnya) berkaitan dengan sejarah penerokaan Tawau. Adalah dipercayai suku kaum ini telah meninggalkan Kepulauan Sulawesi menuju ke Pulau Jawa, Sumatera, Semenanjung Malaysia, Kalimantan dan Borneo sejak abad ke-16 lagi.

Continue reading


Raja-Raja di Malaysia Berdarah Bugis

 

(ANTARA News) – Dari sembilan raja yang memerintah di Malaysia, ternyata pada umumnya merupakan keturunan Raja Bugis dari Kerajaaan Luwu, Sulawesi Selatan. Hal itu terungkap pada Seminar Penelusuran Kerabat Raja Bugis, Sulsel dengan raja-raja Johor-Riau-Selangor, Malaysia di Makassar, Rabu.

“Berdasarkan hasil penelusuran silsilah keturunan dan tinjauan arkeologi diketahui, 14 provinsi di Malaysia, sembilan diantaranya diperintah oleh raja yang bergelar datuk (dato`) atau sultan, sedang empat provinsi lainnya diperintah gubernur yang bukan raja,” kata Prof Emeritus Dato` Dr Moh Yusoff bin Haji Hasyim, President Kolej Teknologi Islam Antarbangsa Melaka. Menurut dia, dari segi silsilah, kesembilan raja yang memiliki hak otoritas dalam mengatur pemerintahannya itu, berasal dari komunitas Melayu-Bugis, Melayu-Johor dan Melayu-Minangkabau. Sebagai contoh, lanjutnya, pemangku Kerajaan Selangor saat ini adalah turunan dari Kerjaan Luwu, Sulsel. Merujuk Lontar versi Luwu` di museum Batara Guru di Palopo dan kitab Negarakerjagama, menyebutkan tradisi `raja-raja Luwu` ada sejak abad ke-9 masehi dan seluruh masa pemerintahan kerajaan Luwu terdapat 38 raja.

Raja yang ke-26 dan ke-28 adalah Wetenrileleang berputrakan La Maddusila Karaeng Tanete, yang kemudian berputrikan Opu Wetenriborong Daeng Rilekke` yang kemudian bersuamikan Opu Daeng Kemboja. “Dari hasil perkawinannya itu lahir lima orang putra, masing-masing Opu Daeng Parani, Opu Daeng Marewah, Opu Daeng Cella`, Opu Daeng Manambong dan Opu Daeng Kamase,” paparnya sembari menambahkan, putra-putra inilah yang kemudian merantau ke Selangor dan menjadi cikal bakal keturunan raja-raja di Malaysia hingga saat ini. Lebih jauh dijelaskan, dengan penelusuran sejarah dan silsilah keluarga itu, diharapkan dapat lebih mendekatakan hubungan antara kedua rumpun Melayu yakni Melayu Selangor dan Bugis. Menurut Moh Jusoff, dari segi kedekatan emosional, silsilah dan genesitas komunitas di Malaysia dan Indonesia tidak bisa dipisahkan. Hanya saja, belum bisa merambah ke persoalan politik karena ranah politik Malaysia berbeda dengan politik Indonesia termasuk mengenai tata pemerintahan dan kemasyarakatannya. Sementara itu, Andi Ima Kesuma,M.Hum, pakar kebudayaan dari Universitas Hasanuddin (Unhas) yang juga Kepala Museum Kota Makassar mengatakan, kekerabatan keturunan raja-raja di Malaysia dan raja-raja Bugis di Sulsel tertuang dalam Sure` Lagaligo maupun dalam literatur klasik lainnya.

“Hanya saja, gelaran yang dipakai di tanah Bugis tidak lagi digunakan di lokasi perantauan (Malaysia) karena sudah berasimilasi dengan situasi dan kondisi di lokasi yang baru,” katanya. Gelar Opu dang Karaeng yang lazim digunakan bagi keturunan raja rai Luwu dan Makassar tidak lagi dipakai di Malaysia melainkan sudah bergelar tengku, sultan atau dato`.(*)